oleh Gabriele Baur, dikutip dari STA-Andachtsbuch 2006,
diterjemahkan bebas oleh Like Gottwald.
Agama atau kepercayaan boleh saja berbeda tetapi di luar batas perbedaan faham tersebut ada kesepakatan, yaitu; kesunyian dan ketenangan sangat diperlukan serta dapat menyembuhkan..
Selama berbulan-bulan lamanya Buddha Gauthama bertapa dengan cara menyendiri serta menghindari komunikasi dan kontak dengan manusia.
Yesus menjauhi dirinya dari kumpulan manusia yang mengikutinya lalu menyendiri diatas bukit atau di padang gurun.
Nabi Muhammad mendapatkan wahyu pada saat ia menyendiri dalam kesunyian.
Dalam tapanya/kesendiriannya, para biarawan agama Zen (agama tua di Jepang) dapat mendengar bagaimana batu karang/wadas bertambah/berkembang.
Para biarawan Benedikt mengundang para peminat untuk turut dalam kursus berdiam.
Di gereja-gereja diperlukan juga adanya saat teduh atau saat untuk berdiam sejenak.
Sering kali kita membutuhkan waktu dan ketenangan dalam kesendirian kita. Kesunyian dan ketenangan bukan merupakan akibat karena kita menarik napas sejenak atau istirahat kerja di siang hari atau juga liburan pendek akhir pekan.
Dalam kesibukan ku sehari-hari, aku memerlukan kesunyian dan ketenangan dimana hal itu merupakan kebahagiaan mendalam buatku terlebih lagi pada saat aku mendekatkan diri pada Allah.
Kesunyian dan ketenangan bukan merupakan ketidak hadiran kita dalam kebisingan atau menutup mata kita sejenak ditengah kegaduhan bahkan menyembunyikan diri kita dari khalayak ramai.
Menurutku kesunyian dan ketenangan adalah dengan cara menyempatkan diri untuk berhenti sejenak dari kegiatanku sehari-hari dan berpikir tentang hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan serta sekitarku.
Kesunyian dan ketenangan merupakan pendekatanku dengan Tuhan dimana aku dapat berbicara denganNya melalui doa serta menuruti perintahNya.
Ada sebuah puisi yang ditulis oleh seorang yang tidak dikenal.
Kesunyian menyembuhkan
Allah mengundang semua untuk datang dan berdiam diri padaNya.
Allah adalah penuntun hidupku.
Allah adalah naunganku dan cahaya bagi ku.
OlehNya aku berada di rumah. PadaNya aku dapatkan secara cuma-cuma hidangan serta siraman air kehidupan.
Hatiku mencari Engkau, Tuhanku. Hatiku milikMu.
DalamNya terdapat keteduhan yang dapat menyembuhkan.
Kesunyian menyembuhkan
Walaupun sibuk dengan kegiatan kita sehari-hari, sebaiknya sempatkanlah diri kita untuk menarik napas dalam-dalam sambil merenungkan diri, sehingga kita bisa memperoleh kembali keberanian, semangat serta energi yang baru.
Raja Daud dalam Mazmur 131:1,2 berkata:
Tuhan, aku tidak tinggi hati dan tidak memandang dengan sombong; aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku.
Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku.
