Demi asin lautan yang menghitamkan kulit ari Kesetiaan adalah bahasa lumba-lumba yang mestinya di mengerti sebagai cinta Nasib anak negeri yang hanya bertengger sebagai janji Telah menjelma bisa pari sejak hati terlukai
Kami bukan ikan-ikan mati yang bisa dilempar sebagai tumbal negara ini Demi kesetiaan berpuluh tahun yang hanya menorehkan luka Anak-anak hitam, bau bia, bau laut kini memanen kata merdeka Sekali berucap LAWAMENA selebihnya parang dan salawaku akan berkibar
Bahasa perlawanan sejak Nuku hingga Pattimura adalah bahasa kesetiaan Kepada negeri airmata dan darah tertumpah sesungguhnya karena cinta Tetapi Jakarta... Tetapi Jakarta telah menarik balik pabrik gula di Laimo Jakarta telah mengambil stasiun oceanologi dan menaruhnya di Bali Jakarta telah membiarkan kami sejak 19 Januari 1999 tanpa hati
Lalu kesetiaan macam apalagi yang harus kami beri Untuk hanya sekadar jadi petinju dan penyanyi di jantung negeri Bukankah Soekarno bilang tanpa kami Indonesia tak jadi apa-apa Seribu ton kopra yang kami bawa ke istana dimana kini harganya?
Maka demi asin lautan yang mengeritingkan rambut kami Sumpah Pattimura muda telah kami ikrarkan di seluruh pelosok negeri Biar peluru menembus kulit kami tetap menerjang Meminta keadilan sebagai harga atas nasib anak negeri